Kamis, 25 Mei 2017
ABSENSI SISWA
DAFTAR NAMA SISWA
ü 1. M. Azhabul Yamin (RSA1C115016)
ü 2. Soni Afriansyah (RSA1C115003)
ü 3. Sri Wahyuningsih (RSA1C115020)
ü 4. Siti Mardhiyah (RSA1C115025)
ü 5. Dwindah Permata (RRA1C115012)
ü 6.Yasni Oktriyani (RRA1C115003)
ü 7. Windi Kartika (RRA1C115015)
Kamis, 18 Mei 2017
QUIZ [KONFIGURASI ELEKTRON]
QUIZ
1. Unsur-unsur yang mempunyai enam
elektron valensi adalah ....
2. Salah satu isotop rubidium
mempunyai nomor atom 37 dan nomor massa 85. Atom tersebut mengandung ....
3. Susunan elektron pada kulit K, L,
M, N untuk kalsium yang memiliki nomor atom 20 adalah ....
4. Konfigurasi elektron berikut yang
tidak dijumpai pada suatu atom adalah ....
5. Atom yang mmpunyai jumlah netron
di dalam inti sama disebut ....
Jumat, 12 Mei 2017
SOAL [TENTANG KONFIGURASI ELEKTRON]
SOAL TUGAS
1. Konfigurasi elektron unsur X yang nomor atomnya 29 adalah………
1. Konfigurasi elektron unsur X yang nomor atomnya 29 adalah………
A.
[Ne] 3s2 3p6 4s2 3d 9
B.
[Ne] 3s2 3p6 4s1 3d 10
C.
[Ne] 3s2 3p5 4s2 3d 10
D.
[Ne] 3s2 3p5 4s2 3d 9
E.
[Ne] 3s2 3p5 4s1 3d 10
2. Diketahui nomor atom Fe = 26, konfigurasi
elektron ion Fe3+ adalah…….
A.
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d 6
B.
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d 5
C.
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d 3
D.
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1 3d 4
E.
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d 6
3. Nomor atom S = 16, jadi konfigurasi elektron ion
sulfida, S2- adalah….
A.
1s2 2s2 2p6 3s2 3p2
B.
1s2 2s2 2p6 3s2 3p4
C.
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6
D.
1s2 2s2 2p6 3s2 3p4 3d2
E.
1s2 2s2 2p6 3s2 3p4 4s2
4. Partikel penyusun inti atom adalah …
4. Partikel penyusun inti atom adalah …
A. proton
B. neutron
C. neutron dan elektron
D. proton dan neutron
E. proton, elektron, dan neutron
5. Partikel
dasar penyusun atom adalah proton ,elektron, dan neutron. Di antara
pernyataan berikut ini, yang benar untuk neutron adalah …
A. jumlah massa nya sama dengan proton
B. jumlahnya dapat berbeda sesuai dengan nomor massa isotopnya
C. jumlah massanya sama dengan jumlah elektron
D. merupakan partikel atom bermuatan positif
E. merupakan partikel atom bermuatan negatif
POKOK BAHASAN [KONFIGURASI ELEKTRON]
Konfigurasi elektron adalah susunan atau distribusi
elektron-elektron pada sebuah atom atau molekul. Susunannya mengikuti aturan
khusus. Aturan tersebut antara lain prinsip aufbau, kaidah hund, dan larangan
pauli. Menurut hukum mekanika kuantum, untuk sistem yang hanya memiliki satu
elektron, elektronnya dapat berpindah dari satu konfigurasi ke konfigurasi lain
dalam bentuk foton. Konfigurasi elektron menunjukkan jumlah elektron pada
setiap sublevel. Sublevel pertama adalah 1s, kemudian 2s, 2p, 3s, 3p, dan
seterusnya. Masing-masing elektron dapat berpindah dengan sendirinya di dalam
sebuah orbital. Salah satu contoh konfigurasi elektron adalah atom neon dengan
konfigurasi 1s2 2s2 2p6. Pengetahuan tentang
konfigurasi elektron di setiap atom sangat berguna untuk memahami struktur
tabel periodik. Konsep konfigurasi elektron ini juga berguna untuk menjelaskan
konsep ikatan kimia, sifat laser, dan semikonduktor.
Konfigurasi elektron didasari oleh model atom
Bohr dan masih digunakan untuk menjabarkan kulit dan subkulit selain pemahaman
mekanika kuantum yang lebih kompleks.
Sebuah kulit elektron adalah beberapa subkulit yang berbagi
bilangan kuantum yang sama yaitu n (nomor sebelum angka dalam sebuah
orbital). Sebuah atom dengan kulit ke-n dapat berisi 2n2 elektron. Misalnya, kulit pertama
dapat berisi 2 elektron, kulit kedua dapat berisi hingga 8 elektron, dan kulit
ketiga 18 elektron. Faktor yang membuatnya selalu genap adalah karena subkulit
dapat menjadi dua bergantung pada putaran elektronnya. Setiap orbital dapat
dimasuki sampai dua elektron dengan putaran yang berlawanan, satu dengan
putaran +1/2 (biasanya dilambangkan dengan tanda panah ke atas) dan satu dengan
putaran –1/2 (dilambangkan dengan tanda panah ke bawah).
Subkulit adalah sebuah tempat di dalam kulit yang berisi
bilangan azimuth yaitu ℓ.
Nilai dari ℓ (0, 1, 2, atau 3) sesuai dengan masing-masing label s, p, d, dan f. Jumlah maksimum elektron
yang bisa ditempatkan di sebuah subkulit dirumuskan sebagai 2(2ℓ+1). Pada
subkulit s maksimum 2, 6 elektron pada subkulit p, 10 pada subkulit d, dan 14
pada subkulit f.
Jumlah elektron yang dapat mengisi setiap kulit
dan masing-masing subkulit muncul dari perhitungan mekanika kuantum, tertama
prinsip larangan Pauli, dimana tidak ada dua elektron di satu atom yang
memiliki nilai bilangan kuantum yang sama.
2. Notasi Konfigurasi Elektron
Ahli fisika dan ahli kimia menggunakan notasi
standar untuk mengetahui konfigurasi elektron dari sebuah atom dan molekul.
Untuk atom, notasinya terdiri dari urutan orbital atom (contoh: untuk fospor
urutannya adalah 1s, 2s, 2p, 3s, 3p) dengan nomor elektron mengisi
masing-masing orbital dalam format superscript. Contoh, hidrogen memiliki satu
elektron dalam orbital s kulit pertama, jadi konfigurasinya ditulis 1s1.
Litium memiliki dua elektron di subkulit 1s dan satu elektron di subkulit 2s
sehingga konfigurasi elektronnya ditulis 1s2 2s1 (dibaca “satu-s-dua, dua-s-satu”).
Fosfor dengan nomor atom 15 memiliki konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p63s2 3p3. Konfigurasi elektron
pada molekul ditulis dengan cara yang sama.
Superscript 1 pada notasi tidak wajib
dicantumkan. Umumnya hurup orbital (s, p, d, f) dicetak miring meskipun IUPAC
(International Union of Pure and Applied Chemistry merekomendasikan huruf
normal. Huruf yang dicetak miring saat ini digunakan untuk mewakili salah satu
kategori garis spektrum seperti “sharp”, “principal”, “diffuse”, dan
“fundamental” (atau “fine”).
2.1. Penyingkatan
Konfigurasi Elektron
Untuk atom dengan banyak elektron, notasi ini
dapat menjadi sangat panjang. Maka dari itu, diperlukan sebuah singkatan untuk
mewakili notasi tertentu. Gas mulia (2 He, 10 Ne, 18 Ar, 36 Kr, 54 Xe, dan 86
Rn) bisa digunakan untuk mewakili notasi tertentu. Misalnya fosfor yang salah
satu bagian notasinya diwakili oleh neon (1s2 2s2 2p6) sehingga menjadi [Ne]
3s2 3p3.
Kaidah ini sangat berguna untuk membantu memahami konfigurasi elektron yang
panjang.
2.2. Aturan Penuh
Setengah Penuh
Sifat ini berhubungan erat dengan hibridisasi
elektron. Aturan ini menyatakan bahwa “suatu elektron mempunyai kecenderungan
untuk berpindah orbital apabila dapat membentuk susunan elektron yang lebih
stabil”. Untuk konfigurasi elektron yang berakhir pada sub kulit d berlaku
aturan penuh dan setengah penuh. Contohnya adalah sebagai berikut:
24Cr
= 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d4 menjadi 24Cr = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1 3d5
Dari contoh diatas terlihat apabila 4s diisi 2
elektron maka 3d kurang satu elektron untuk menjadi setengah penuh. Maka
elektron dari 4s akan berpindah ke 3d.
2.3. Konfigurasi
Elektron Ion
Unsur yang mengalami ionisasi akan mengalami
perubahan jumlah elektron. Misalnya adalah besi (Fe) yang mempunyai nomor atom
26 dan mempunyai konfigurasi elektron [Ar] 3d64s2. Jika
Fe terionisasi menjadi Fe2+, maka elektron Fe berkurang 2 dari
jumlah asal. Sehingga konfigurasi Fe2+ adalah [Ar] 3d6. Ingat,
jika sebuah atom mengalami ionisasi maka yang berkurang adalah elektron valensi
(elektron terluar).
3. Energi dalam Konfigurasi Elektron
Energi dikaitkan dengan elektron dalam orbital.
Energi dalam sebuah konfigurasi sering mendekati jumlah energi di setiap
elektron dengan mengabaikan interaksi antar elektron. Konfigurasi yang memiliki
energi terendah disebut keadaan dasar (ground state). Sedangkan
konfigurasi lainnya disebut keadaan tereksitasi (excited state).
Sebagai contoh, keadaan dasar konfigurasi atom
sodium adalah 1s2 2s2 2p6 3s, yang berasal dari prinsip
Aufbau. Keadaan tereksitasi pertama diperoleh dengan menukar elektron 3s
menjadi 3p sehingga menjadi 1s2 2s2 2p6 3p yang dapat disingkat menjadi
level 3p. Atom dapat berpindah dari satu konfigurasi ke konfigurasi lain dengan
menyerap atau melepaskan energi.
4. Sejarah Konfigurasi Elektron
Niels Bohr (1923) adalah orang pertama yang
mengusulkan bahwa perioditas dalam tabel periodik dapat dijabarkan dengan
struktur elektron dalam atom. Usul tersebut didasari oleh model atom Bohr
miliknya dimana kulit elektron memiliki orbit dengan jarak tertentu dari
nukleus (inti atom). Konfigurasi awal Bohr terlihat aneh dalam ilmu kimia masa
kini: misalnya sulfur memiliki konfigurasi 2.4.4.6 sedangkan yang sekarang
adalah 1s2 2s2 2p6 3s2 3p4(2.8.6).
Beberapa tahun kemudian, E. C. Stoner bersama
Sommerfield berhasil menjabarkan kulit elektron dan secara tepat memprediksi
struktur kulit sulfur adalah 2.8.6. Namun, tidak ada sistem baik milik Bohr
maupun Stoner dapat menjabarkan dengan benar perubahan spektrum atom dalam zona
magnetik (efek Zeeman).
Bohr sangat menyadari kekurangan prinsipnya
tersebut. Ia menulis surat untuk temannya Wolfgang Pauli untuk meminta
bantuannya untuk menjaga teori kuantumnya (sistem yang kini dikenal sebagai
“teori kuantum lama”). Pauli menyadari bahwa efek Zeeman hanya berlaku pada
elektron terluar dari atom dan dapat mereproduksi struktur kulit Stoner.
Persamaan Schrödinger yang dipublikasikan pada
tahun 1926 memberikan tiga dari empat bilangan kuantum sebagai kesimpulan
langsung dari penyelesaiannya terhadap atom hidrogen. Penyelesaiannya tersebut
merupakan hasil dari orbital atom yang saat ini diajarkan di textbook kimia.






















