Jumat, 12 Mei 2017

POKOK BAHASAN [KONFIGURASI ELEKTRON]

Konfigurasi elektron adalah susunan atau distribusi elektron-elektron pada sebuah atom atau molekul. Susunannya mengikuti aturan khusus. Aturan tersebut antara lain prinsip aufbau, kaidah hund, dan larangan pauli. Menurut hukum mekanika kuantum, untuk sistem yang hanya memiliki satu elektron, elektronnya dapat berpindah dari satu konfigurasi ke konfigurasi lain dalam bentuk foton. Konfigurasi elektron menunjukkan jumlah elektron pada setiap sublevel. Sublevel pertama adalah 1s, kemudian 2s, 2p, 3s, 3p, dan seterusnya. Masing-masing elektron dapat berpindah dengan sendirinya di dalam sebuah orbital. Salah satu contoh konfigurasi elektron adalah atom neon dengan konfigurasi 1s2 2s2 2p6. Pengetahuan tentang konfigurasi elektron di setiap atom sangat berguna untuk memahami struktur tabel periodik. Konsep konfigurasi elektron ini juga berguna untuk menjelaskan konsep ikatan kimia, sifat laser, dan semikonduktor.
1. Kulit dan Subkulit dalam Konfigurasi Elektron
Konfigurasi elektron didasari oleh model atom Bohr dan masih digunakan untuk menjabarkan kulit dan subkulit selain pemahaman mekanika kuantum yang lebih kompleks.
Sebuah kulit elektron adalah beberapa subkulit yang berbagi bilangan kuantum yang sama yaitu n (nomor sebelum angka dalam sebuah orbital). Sebuah atom dengan kulit ke-n dapat berisi 2n2 elektron. Misalnya, kulit pertama dapat berisi 2 elektron, kulit kedua dapat berisi hingga 8 elektron, dan kulit ketiga 18 elektron. Faktor yang membuatnya selalu genap adalah karena subkulit dapat menjadi dua bergantung pada putaran elektronnya. Setiap orbital dapat dimasuki sampai dua elektron dengan putaran yang berlawanan, satu dengan putaran +1/2 (biasanya dilambangkan dengan tanda panah ke atas) dan satu dengan putaran –1/2 (dilambangkan dengan tanda panah ke bawah).
Subkulit adalah sebuah tempat di dalam kulit yang berisi bilangan azimuth yaitu . Nilai dari ℓ (0, 1, 2, atau 3) sesuai dengan masing-masing label s, p, d, dan f. Jumlah maksimum elektron yang bisa ditempatkan di sebuah subkulit dirumuskan sebagai 2(2ℓ+1). Pada subkulit s maksimum 2, 6 elektron pada subkulit p, 10 pada subkulit d, dan 14 pada subkulit f.
Jumlah elektron yang dapat mengisi setiap kulit dan masing-masing subkulit muncul dari perhitungan mekanika kuantum, tertama prinsip larangan Pauli, dimana tidak ada dua elektron di satu atom yang memiliki nilai bilangan kuantum yang sama.
2. Notasi Konfigurasi Elektron
Ahli fisika dan ahli kimia menggunakan notasi standar untuk mengetahui konfigurasi elektron dari sebuah atom dan molekul. Untuk atom, notasinya terdiri dari urutan orbital atom (contoh: untuk fospor urutannya adalah 1s, 2s, 2p, 3s, 3p) dengan nomor elektron mengisi masing-masing orbital dalam format superscript. Contoh, hidrogen memiliki satu elektron dalam orbital s kulit pertama, jadi konfigurasinya ditulis 1s1. Litium memiliki dua elektron di subkulit 1s dan satu elektron di subkulit 2s sehingga konfigurasi elektronnya ditulis 1s2 2s1 (dibaca “satu-s-dua, dua-s-satu”). Fosfor dengan nomor atom 15 memiliki konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p63s2 3p3. Konfigurasi elektron pada molekul ditulis dengan cara yang sama.
Superscript 1 pada notasi tidak wajib dicantumkan. Umumnya hurup orbital (s, p, d, f) dicetak miring meskipun IUPAC (International Union of Pure and Applied Chemistry merekomendasikan huruf normal. Huruf yang dicetak miring saat ini digunakan untuk mewakili salah satu kategori garis spektrum seperti “sharp”, “principal”, “diffuse”, dan “fundamental” (atau “fine”).

2.1. Penyingkatan Konfigurasi Elektron

Untuk atom dengan banyak elektron, notasi ini dapat menjadi sangat panjang. Maka dari itu, diperlukan sebuah singkatan untuk mewakili notasi tertentu. Gas mulia (2 He, 10 Ne, 18 Ar, 36 Kr, 54 Xe, dan 86 Rn) bisa digunakan untuk mewakili notasi tertentu. Misalnya fosfor yang salah satu bagian notasinya diwakili oleh neon (1s2 2s2 2p6) sehingga menjadi [Ne] 3s2 3p3. Kaidah ini sangat berguna untuk membantu memahami konfigurasi elektron yang panjang.

2.2. Aturan Penuh Setengah Penuh

Sifat ini berhubungan erat dengan hibridisasi elektron. Aturan ini menyatakan bahwa “suatu elektron mempunyai kecenderungan untuk berpindah orbital apabila dapat membentuk susunan elektron yang lebih stabil”. Untuk konfigurasi elektron yang berakhir pada sub kulit d berlaku aturan penuh dan setengah penuh. Contohnya adalah sebagai berikut:
24Cr = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d4  menjadi 24Cr = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1 3d5
Dari contoh diatas terlihat apabila 4s diisi 2 elektron maka 3d kurang satu elektron untuk menjadi setengah penuh. Maka elektron dari 4s akan berpindah ke 3d.

2.3. Konfigurasi Elektron Ion

Unsur yang mengalami ionisasi akan mengalami perubahan jumlah elektron. Misalnya adalah besi (Fe) yang mempunyai nomor atom 26 dan mempunyai konfigurasi elektron [Ar] 3d64s2. Jika Fe terionisasi menjadi Fe2+, maka elektron Fe berkurang 2 dari jumlah asal. Sehingga konfigurasi Fe2+ adalah [Ar] 3d6. Ingat, jika sebuah atom mengalami ionisasi maka yang berkurang adalah elektron valensi (elektron terluar).
3. Energi dalam Konfigurasi Elektron
Energi dikaitkan dengan elektron dalam orbital. Energi dalam sebuah konfigurasi sering mendekati jumlah energi di setiap elektron dengan mengabaikan interaksi antar elektron. Konfigurasi yang memiliki energi terendah disebut keadaan dasar (ground state). Sedangkan konfigurasi lainnya disebut keadaan tereksitasi (excited state).
Sebagai contoh, keadaan dasar konfigurasi atom sodium adalah 1s2 2s2 2p6 3s, yang berasal dari prinsip Aufbau. Keadaan tereksitasi pertama diperoleh dengan menukar elektron 3s menjadi 3p sehingga menjadi 1s2 2s2 2p6 3p yang dapat disingkat menjadi level 3p. Atom dapat berpindah dari satu konfigurasi ke konfigurasi lain dengan menyerap atau melepaskan energi.
4. Sejarah Konfigurasi Elektron
Niels Bohr (1923) adalah orang pertama yang mengusulkan bahwa perioditas dalam tabel periodik dapat dijabarkan dengan struktur elektron dalam atom. Usul tersebut didasari oleh model atom Bohr miliknya dimana kulit elektron memiliki orbit dengan jarak tertentu dari nukleus (inti atom). Konfigurasi awal Bohr terlihat aneh dalam ilmu kimia masa kini: misalnya sulfur memiliki konfigurasi 2.4.4.6 sedangkan yang sekarang adalah 1s2 2s2 2p6 3s2 3p4(2.8.6).
Beberapa tahun kemudian, E. C. Stoner bersama Sommerfield berhasil menjabarkan kulit elektron dan secara tepat memprediksi struktur kulit sulfur adalah 2.8.6. Namun, tidak ada sistem baik milik Bohr maupun Stoner dapat menjabarkan dengan benar perubahan spektrum atom dalam zona magnetik (efek Zeeman).
Bohr sangat menyadari kekurangan prinsipnya tersebut. Ia menulis surat untuk temannya Wolfgang Pauli untuk meminta bantuannya untuk menjaga teori kuantumnya (sistem yang kini dikenal sebagai “teori kuantum lama”). Pauli menyadari bahwa efek Zeeman hanya berlaku pada elektron terluar dari atom dan dapat mereproduksi struktur kulit Stoner.

Persamaan Schrödinger yang dipublikasikan pada tahun 1926 memberikan tiga dari empat bilangan kuantum sebagai kesimpulan langsung dari penyelesaiannya terhadap atom hidrogen. Penyelesaiannya tersebut merupakan hasil dari orbital atom yang saat ini diajarkan di textbook kimia.

16 komentar:

  1. Assalamualaikum, selamat malam bu, disini saya ingin bertanya pada materi yg telah ibu berikan. Pada materi diatas dikatan bahwa Menurut hukum mekanika kuantum, untuk sistem yang hanya memiliki satu elektron, elektronnya dapat berpindah dari satu konfigurasi ke konfigurasi lain dalam bentuk foton. nah saya kurang mengerti dengan penjelasan tersebut, bisakah ibu berikan contoh nya untuk memperjelas maksud dari pernyataan tersebut, terimakasih .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walaikumsalam wr wb

      baiklah ibu akan memberikan contoh soal mungkin dengan contoh soal ini kamu akan mengerti

      1. Golongan

      SPU dibagi atas 8 golongan. Setiap golongan dibagi atas Golongan Utama (A) dan Golongan Transisi (B). Penomoran golongan dilakukan berdasarkan elektron valensi yang dimiliki oleh suatu unsur. Setiap Unsur yang memiliki elektron valensi sama akan menempati golongan yang sama pula

      Berdasarkan letak elektron terakhir pada orbitalnya, dalam konfigurasi elektron, unsur-unsur dalam SPU dibagi menjadi 4 blok, yaitu blok s, blok p, blok d, dan blok f.

      Jika konfigurasi elektron berakhir di blok s atau p maka pasti menempati golongan A
      Jika konfigurasi elektron berakhir di blok d maka pasti menempati golongan B
      Jika konfigurasi elektron berakhir di blok f maka pasti menempati golongan B (Lantanida, n=6 dan Aktinida, n=7 (gol.radioatif))
      Selain itu untuk menentukan nomor golongan, ditentukan dengan mengetahui jumlah elektron valensi pada konfigurasi terakhir.

      Contoh :

      11Na = 1s2 2s2 2p6 3s1

      Dapat diketahui bahwa elektron terakhir pada n=3 mempunyai elektron valensi 1, berarti golongan I serta berakhir di subkulit s, berarti Golongan A, jadi kalau digabungkan menjadi Golongan IA

      2. Periode

      SPU terdiri atas 7 periode. Periode disusun berdasarkan kenaikan nomor atom. Unsur-unsur yang mempunyai jumlah kulit sama akan menempati baris yang sama. Dengan demikian jumlah kulit sama dengan periode, sehingga periode 1 memiliki n-1, periode 2 memiliki n=2, dst.

      Contoh :

      11Na = 1s2 2s2 2p6 3s1

      Dapat diketahui bahwa elektron terakhir berada pada n=3 yang berarti unsur tersebut masuk dalam Periode 3

      Hapus
  2. Assalamualaikum Bu, saya ingin bertanya, apakah ada pengecualian atau aturan khusus dalam membuat konfigurasi elektron suatu atom.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamualaikum, disini saya akan menjawab pertanyaan saudari yasni mengenai aturan dlm membuat konfigurasi elektron salah saunya adalah aturan penuh setengah penuh. Aturan ini menyatakan bahwa “suatu elektron mempunyai kecenderungan untuk berpindah orbital apabila dapat membentuk susunan elektron yang lebih stabil”. Untuk konfigurasi elektron yang berakhir pada sub kulit d berlaku aturan penuh dan setengah penuh. Selain itu ada juga aturan aufbau dan aturan madelung. Menurut saya seperti itu, terimakasih

      Hapus
    2. Walaikumsalam wr wb
      memang benar yang dikatakan oleh sri wahyuhingsih bahwasanya “suatu elektron mempunyai kecenderungan untuk berpindah orbital apabila dapat membentuk susunan elektron yang lebih stabil”. Untuk konfigurasi elektron yang berakhir pada sub kulit d berlaku aturan penuh dan setengah penuh.
      Jadi jawaban yang sri wahyuningsih sampaikan sudah benar.

      Hapus
  3. bagaimana konfigurasi elektron dapat mudah dipahami bu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau menurut ibu bagaimana cara agar konfigurasi elektron dapat mudah dipahami dengan mempelajari aturan-aturan konfigurasi elektron tersebut.
      Dalam menentukan konfigurasi elektron dalam atom ada 3 aturan yang harus dipakai, yaitu Aturan Aufbau, Aturan Pauli, dan Aturan Hund.
      1. Aturan Aufbau
      intinya seperti ini : 1s < 2s < 2p < 3s < 3p < 4s < 3d < 4p < 5s < 4d < 5p < 6s < 4f < 5d ….

      muatan atom yang dapat memenuhi:

      S= 2
      P= 6
      D: 10
      F= 14

      misalkan ada pertanyaan tentukan konfigurasi elektron dari 7NE . mudah menjawabnya seperti ini:

      7N : 1s2 2S2 2p3

      kita lihat pangkat dari angka tersebut, dimulai dari 1s2 lalu 2S2 lalu dilanjutkan 2p3

      bila kita hitung, 2+2+3 = 7 *lihat pangkatnya. ingat muatan atom yang dapat memenuhi.

      2. Aturan Pauli
      Aturan ini di sampaikan oleh Wolfgang Pauli pada 1926. Yang menyatakan “Tidak boleh terdapat dua elektron dalam satu atom dengan empat bilangan kuantum yang sama”. Orbital yang sama akan mempunyai bilangan kuantum n, l, m, yang sama tetapi yang membedakan hanya bilangan kuantum spin (s). Dengan demikian, setiap orbital hanya dapat berisi 2 elektron dengan spin (arah putar) yang berlawanan.

      Contoh :
      Pada orbital 1s, akan ditempati oleh 2 elektron, yaitu :

      Elektron Pertama à n=1, l=0, m=0, s= +½
      Elektron Kedua à n=1, l=0, m=0, s= – ½

      (Hal ini membuktikan bahwa walaupun kedua elektron mempunyai n,l dan m yang sama tetapi mempunyai spin yang berbeda)

      3. Aturan Hund
      Aturan ini diajukan oleh Friedrick Hund Tahun 1930 dan menyatakan “elektron-elektron dalam orbital-orbital suatu subkulit cenderung untuk tidak berpasangan”.

      Untuk menyatakan distribusi elektron-elektron pada orbital-orbital dalam suatu subkulit, konfigurasi elektron dituliskan dalam bentuk diagram orbital.

      Orbital di gambarkan dalam bentuk kotak, sedangkan elektron yg menghuni orbital di gambarkan dengan bentuk dua anak panah yang berlawanan arah. Jika orbital hanya mengandung satu elektron, maka anak panah yang ditulis mengarah ke atas.

      Hapus
  4. bagaimana cara menentukan konfigurasi elektron untuk unsur yang memiliki ion ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. baiklah, saya akan mencoba membantu menjawab pertanyaan dari saudara soni . . .

      kation bermuatan y+ terbentuk jika atom netralnya melepaskan y elektron. Elektron yang dilepas merupakan elektron dari kulit terluar.
      21Sc = (Ar) 3d1 4s2

      Anion bermuatan y- terbentuk dari atom netralnya dengan menyerap y elektron. Elektron yang diserap itu mengisi orbital dengan tingkat energi terendah yang belum penuh.
      17Cl = (Ne) 3s2 3p5.
      terimakasih, tolong ibu guru periksa lagi ya , mana tau salah bu guru.

      Hapus
    2. Menurut ibu jawaban dari M. Azhabul Yamin sudah benar.

      Hapus
  5. Assalamualaikum buk guru, saya hadir buk guru, maaf telat ya buk untuk hari ini insyallah tidak diulangi lagi telatnya.

    bagaimana cara menentukan konfigurasi elektron pada suatu nomor atom, misalnya nomor atom 20 ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam

      20Ca = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2

      n = 4
      l = 0
      m = -1
      s = -1/2

      Golongan = 2A
      Periode = 4

      K = 2
      L = 8
      M = 8
      N = 2

      2)8)8)2
      Elektron valensinya = 2

      Hapus
  6. Assalamualaikum buk guru saya masih kurang mengerti jadi mohon di berikan contoh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Atom Ca memiliki nomor atom 20. Tentukan:
      a) jumlah kulit yang terisi elektron pada atom Ca
      b) jumlah elektron valensi pada atom Ca dan letak kulitnya
      Pembahasan
      Dengan patokan berikut:
      K - kulit 1 (n = 1), maksimal berisi 2 elektron.
      L - kulit 2 (n = 2), maksimal berisi 8 elektron.
      M - kulit 3 (n = 3), maksimal berisi 18 elektron.
      N - kulit 4 (n = 4), maksimal berisi 32 elektron.
      O - kulit 5 (n = 5), maksimal berisi 50 elektron.
      P - kulit 6 (n = 6), maksimal berisi 72 elektron.

      Ca - 20 elektron:
      K : 2
      L : 8

      Berhenti dulu, masih ada sisa 10 elektron lagi yang berarti lebih kecil dari 18. Sesuai tabel di atas kulit berikutnya akan terisi 8 elektron.
      M : 8

      Masih sisa 2 elektron lagi, isikan di kulit berikutnya.
      N : 2

      Konfigurasi selengkapnya adalah:
      K : 2
      L : 8
      M : 8
      N : 2

      atau
      20Ca : 2 8 8 2

      Sehingga:
      a) jumlah kulit yang berisi elektron ada 4.
      b) elektron valensinya ada 2 berada di kulit N

      Hapus
  7. bu saya masih bingung dengan contoh yag telah ibu beri apakah ada cara untuk kita memudahkan menentukan konfiurasi elektron ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut ibu dari soal yang ibu jelaskan dan berikan sudah sangat mempermudah kita untuk mempelajari dan menentukan konfigurasi elektron.

      Hapus